Minggu, 12 September 2010 kemarin,, bertepatan dengan 3 Syawal 1431 H, kakak perempuanku yang ketiga menikah.
Nadia namanya.
Di sini, aku bukan hendak bercerita tentang prosesi pernikahannya.
Yang ingin aku ceritakan, sebongkah perasaan yang menyelimutiku saat itu..
Nadia namanya.
Di sini, aku bukan hendak bercerita tentang prosesi pernikahannya.
Yang ingin aku ceritakan, sebongkah perasaan yang menyelimutiku saat itu..
Mungkin perlu kuceritakan sedikit mengenai keluargaku.
Aku anak keempat dari empat bersaudara.
Yang pertama perempuan, sudah menikah tahun lalu.
Yang kedua laki-laki. Belum menikah. insyaAllah akan menikah akhir tahun nanti.
yang ketiga perempuan, yang baru kuceritakan di atas tadi.
yang ketiga perempuan, yang baru kuceritakan di atas tadi.
Dari kecil, kami berempat merupakan saudara yang rukun dan saling tolong menolong. Walau mungkin aku yang paling nakal, manja dan menyebalkan. Tapi kami saling menyayangi. Itulah namanya saudara, kan..?
Aku paling sering berantem dengan kakak perempuanku yang pertama.
Kami sering perang mulut. Waktu kecil, aku memang agak sedikit kurang ajar dengan kakak pertama ku ini sepertinya..
Dia sering memarahiku, dan aku pun balas marah. Tapi seiring waktu berjalan, aku mulai menyadari kesalahanku dan aku pun mulai menyadari bahwa sesungguhnya ia begitu menyayangiku (geer dikit gapapalah yaw.. hehe)
Di tahun 2005, ia diterima sbg PNS di Dinas Kesehatan Pemerintah Daerah Lahat. Karena saat itu ia memang ikut tes penerimaan PNS di daerah Lahat. Alhamdulillah. Tp pada saat itu aku tidak terlalu sedih mengetahui ia akan pergi meninggalkan rumah, untuk merantau di kota Lahat.
Mungkin karena Lahat tidak begitu jauh dr Palembang, sehingga di akhir pekan ia bisa pulang kerumah.
Tahun 2008, ia mengusulkan untuk pindah ke Palembang. Ternyata bisa.
Tahun 2009 kemarin, ia menikah dengan lelaki pilihannya yang berasal dr Lahat. Dan mereka sekarang tinggal di rumah menemani mama.
Kakak lelaki ku yang kedua. Sejak ia tamat SMA, ia kuliah di STAN di Tangerang. Saat itu aku br masuk SMP. Jadi sejak itu kami memang sudah terpisah. Hanya bertemu ketika dia libur pulang ke Palembang. Waktu kecil, aku sering sekali mengganggu kakakku satu ini. Karena dia satu2nya kakak cowok yang kupunya. Ia sering kesal gara2 aku. Aku sering menangis dibuatnya, tapi mama selalu membelaku,, jadinya dia tambah kesal. Hahaha.. lucu. :)
Kakakku yang ketiga. Aku sangat dekat dengannya. Kesana-kemari bersama-sama. Waktu kecil, mama sering membelikan kami baju kembar. Dan kami sangat menyukainyaa.. :D
Ia kakakku yang sangat sabar. –khususnya sabar menghadapiku- dia selalu membantu aku ketika kesulitan. Pernah suatu waktu, aku sedang kuliah semester 4 di indralaya. Mata kuliah Sistem Informasi Akuntansi. Salah satu mata kuliah berat dengan dosen yang killer.. waktu itu ada tugas kelompok yang sudah kami buat dan dsimpan ddlm CD. Sialnya, hari itu aku lupa membawa CD ituu. Setelah memikirkan segala kemungnkinan, aku akhirnya menelpon kakakku ini, yang saat itu memang sedang dirumah, tidak ada kuliah (dia juga kuliah di Unsri Indralaya). Akupun memohon padanya untuk mengantarkan CD itu ke kampus saat itu juga. Dan ternyata ia menyanggupi. Jadilah dia berangkat ke kampus naik bus mahasiswa dengan jarak tempuh kurang lebih 1 jam itu. CUMA UNTUK mengantarkan CD tugas ku yang tertinggal saja..
Teman2 dekatku yang mengetahui itu pun tak menyangka,, reaksi mereka menunjukkan bahwa mereka iri aku punya kakak sebaik kakakku ini..
Yah,, aku begitu bangga memilikinya. :)
Tahun 2008 dia lulus kuliah, dan di tahun itu juga dia lulus tes PLN. Banggaku berkali-kali lipat. Ia memang kakakku yang hebat.
Tapi,, ketika aku tau peraturan PLN, yang mewajibkan mereka untuk diklat di bogor, kemudian melanjutkan ojt, dan terakhir penempatan kerja, yang kemungkinan tidak ditempatkan di daerah asal,, aku pun mulai berfikir..
Dalam waktu 1 tahun ini dia akan diklat + ojt.
Kemudian penempatan kerja selama minimal 5 tahun. Total = 6 tahun ia akan pergi.. dan aku pun mulai berfikir, dalam waktu 6 tahun itu, 2 atau 3 tahun dari sekarang, ia pasti akan menikah. Sgalanya pasti akan berubah.
Aku merasa kehilangan. Kehilangan saat itu,, merupakan kehilangan yang tidak kehilangan bagiku (aku tak tahu kata yang tepat menggambarkannya). Semalam-malaman aku menangis memikirkan dan membayangkannya. Tapi semua harus terjadi. Semua harus dijalani.
Saat itu aku mengantarnya hingga ia berangkat bersama rombongan PLN lainnya. Waktu berlalu. Diklat di bogor selesai, dan dia melanjutkan ojt di Jakarta. Setahun berlalu, ojt selesai, ternyata SK penempatan kerjanya pun di Jakarta. Tetap di kantor yang sama dengan ojt nya. Setahun lagi berlalu..
Dan ternyata perkiraanku benar. 2 tahun berlalu dr saat itu,, hari minggu kemarin dia menikah. Menikah dengan lelaki pilihannya. Aku tau dia bahagia. Dia sangat bahagia. Aku pun bahagia. Ada seorang ksatria yang menjaganya sekarang.
Tapi jauh dari lubuk hatiku yang paling dalam, aku sungguh merasa sedih. Ada sesuatu dari diriku yang hilang.
Ketika akad nikahnya selesai berlangsung kemarin, aku tak kuasa menahan air mataku. Jatuh begitu saja. Tak mampu ku bendung. Dan ketika ia menghampiriku, aku menyalaminya dan memeluknya dengan begitu erat. Tangisku sekali lagi tumpah. Kak Nad ku yang mungil, yang selalu aku jahili,, hari ini harus berangkat mengarungi samudera kehidupannya,, dengan kapalnya sendiri, yang disebut ‘keluarga’. Dengan nakhoda suaminya. Hanya ada mereka berdua di kapal itu.. Tak ada kami lagi.
Dan aku.. hanya bisa mengantar sampai sini.
Mungkin, Ia tak akan kemana-mana. Ia tetap ada di sini. Sama seperti ia pergi dua tahun silam. Tapi kali ini, Semua akan berbeda. Semua akan benar-benar berbeda..
itulah, kehilangan yang tak kehilangan..
Ada sesuatu yang tiba-tiba saja teringat olehku. Dulu, aku punya seorang kakak kelas yang kuanggap kakak angkat. Ketika kakak angkatku ini ulangtahun, aku sibuk memikirkan kado apa yang kira-kira bagus untuk kuberikan padanya. Bahkan aku bertanya pada kakakku tadi.
Padahal, aku jarang memberi kado pada kakakku saat ia berulang tahun,, sedangkan ia sering sekali memberiku kado.. tak terhitung.
sepertinya aku sangat kurang sebagai adik. Bahkan, aku jauh dari istilah ‘adik yang baik’ bagi seluruh kakak-kakakku.
Ya,, mungkin, aku tak banyak memberikan apa-apa kepada kalian,,
Tapi,, aku sanggup memberikan nyawaku bila diperlukan.
Karena kalian merupakan kakak2 terbaik di dunia, yang kumiliki…
Semoga Allah selalu menyayangi dan melindungi orang tua dan kakak-kakakku.. amin.
Karena merekalah harta ku di dunia ini. :)


0 comments:
Posting Komentar